Dalam perspektif adat dan tradisi Melayu Jambi, terdapat kelemahan serius yang perlu diingatkan kepada para pemangku kebijakan. Norma etika adat istiadat sering terlupakan, bahkan terkesan sengaja dipinggirkan. Kita tidak pernah benar-benar tahu seperti apa regulasi yang diberlakukan kepada investor dan pengembang. Yang terlihat justru rentetan persoalan sosial—konflik lahan, gesekan budaya, hingga keresahan masyarakat—yang terus bermunculan dan membekas di tanah Melayu Jambi.
Sudah saatnya pemerintah daerah menjadikan adat bukan sekadar simbol seremoni, melainkan fondasi dalam setiap pengambilan kebijakan. Pembangunan tanpa adat adalah pembangunan yang pincang. Dan bila adat terus diabaikan, maka bukan mustahil, “Biso Kawi” hari ini hadir bukan sebagai sumpah, melainkan sebagai peringatan sejarah yang terulang dalam bentuk konflik sosial dan kerusakan nilai.
Adat adalah benteng terakhir. Jika benteng ini runtuh, maka Negeri Melayu Jambi akan kehilangan jati dirinya—maju secara fisik, tetapi rapuh secara batin.


