Tahun 2026 kembali menghadirkan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah peristiwa agung yang tidak hanya mencatat perjalanan fisik Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus tujuh lapis langit, tetapi juga menjadi alarm keras bagi nurani umat manusia di setiap zaman.

Isra Mi’raj bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi spanduk, baliho, dan seremonial mimbar. Ia adalah peristiwa langit yang mengguncang bumi, membawa pesan ilahiah tentang shalat, kejujuran, tanggung jawab, dan ketundukan mutlak kepada Allah SWT. Ironisnya, pesan suci itu kerap tenggelam di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin bising oleh ambisi, kekuasaan, dan ketamakan.

Di tengah krisis moral, ketidakadilan sosial, dan kemerosotan nilai kemanusiaan, peringatan Isra Mi’raj 2026 justru terasa mencekam. Bukan karena kisah perjalanan Nabi, melainkan karena pertanyaan besar yang menghantui umat: masihkah shalat menjadi pencegah kezaliman, ataukah hanya rutinitas kosong tanpa ruh?

Langit pernah terbuka untuk Rasulullah SAW. Namun hari ini, yang terasa justru hati manusia kian tertutup. Kebohongan dinormalisasi, kezaliman dibungkus jabatan, dan ibadah kerap dijadikan tameng, bukan pedoman. Masjid megah berdiri di mana-mana, tetapi jeritan kaum lemah sering tak terdengar.

Isra Mi’raj sejatinya adalah peringatan keras. Ia mengingatkan bahwa shalat adalah tiang agama, pembatas antara iman dan kekufuran, serta cermin kejujuran manusia di hadapan Tuhannya. Jika shalat tidak lagi mampu membentuk akhlak, maka yang patut ditakuti bukanlah murka manusia, melainkan murka Allah SWT.

Memperingati Isra Mi’raj 2026 seharusnya menjadi momentum muhasabah kolektif. Sudah sejauh mana perjalanan spiritual kita? Apakah kita benar-benar “naik” mendekat kepada Tuhan, atau justru terus terperosok dalam gelapnya hawa nafsu dan kepentingan duniawi?

Isra Mi’raj bukan dongeng masa lalu. Ia adalah peristiwa hidup yang menuntut jawaban hari ini. Dan jawaban itu akan tercermin bukan dari lantangnya ceramah, melainkan dari lurusnya shalat, bersihnya hati, dan tegaknya keadilan di tengah kehidupan.
Jika langit pernah bersaksi atas ketaatan Nabi, maka bumi hari ini sedang menunggu: akankah umatnya masih layak menyebut diri sebagai pengikut Rasulullah SAW?